Pendahuluan
Dalam era digital yang terus berkembang, perpustakaan tidak lagi sekadar menyimpan buku fisik. Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru bagi pustakawan untuk mengelola informasi secara lebih efektif, menyediakan layanan digital, dan memenuhi kebutuhan masyarakat modern.
Pada pembukaan Kongres Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Gubernur Ansar menekankan pentingnya pustakawan mampu menanggapi perkembangan teknologi, khususnya AI, agar tetap relevan dan mampu memberikan layanan informasi berkualitas bagi publik.
Artikel ini membahas pesan Gubernur Ansar, tantangan pustakawan di era digital, pemanfaatan AI di perpustakaan, serta strategi pengembangan kompetensi pustakawan untuk menghadapi perubahan.Gubernur Ansar membuka Kongres IPI dan menekankan pustakawan harus mampu merespon perkembangan teknologi AI untuk layanan perpustakaan lebih efektif. Berita Teknologi terlengkap hanya di teknouniverse.com
1. Latar Belakang Kongres IPI
Kongres IPI adalah ajang tahunan yang mempertemukan pustakawan dari seluruh Indonesia. Tujuannya antara lain:
- Meningkatkan Kompetensi Pustakawan – Memberikan pelatihan dan diskusi terkait perkembangan literasi dan teknologi informasi.
- Memperkuat Jejaring Profesional – Mendorong kolaborasi antar perpustakaan dan pustakawan.
- Menyikapi Transformasi Digital – Membahas penerapan teknologi terbaru, termasuk AI, untuk pengelolaan perpustakaan modern.
Gubernur Ansar yang hadir secara langsung membuka kongres dengan pidato penting mengenai peran pustakawan di era teknologi.
2. Pesan Gubernur Ansar: Respons terhadap AI
Dalam pidatonya, Gubernur Ansar menekankan bahwa pustakawan perlu:
- Menguasai Teknologi AI – Pustakawan harus memahami cara kerja AI untuk mempermudah pencarian informasi dan analisis data.
- Beradaptasi dengan Perubahan Layanan – Layanan perpustakaan kini tidak hanya fisik, tetapi juga digital melalui e-book, basis data online, dan platform pembelajaran daring.
- Meningkatkan Kompetensi Digital – Pelatihan AI dan manajemen informasi modern menjadi kunci agar pustakawan tetap relevan.
Menurut Gubernur Ansar, pustakawan yang mampu memanfaatkan AI akan lebih efektif dalam menyajikan informasi yang akurat, cepat, dan relevan bagi masyarakat luas.
3. Tantangan Pustakawan di Era Digital
Era digital menghadirkan sejumlah tantangan bagi pustakawan:
3.1. Transformasi Layanan
Perpustakaan tidak lagi terbatas pada buku cetak. Pengelolaan sumber daya digital memerlukan keterampilan baru, seperti manajemen basis data, kurasi e-book, dan layanan daring.
3.2. Kompetensi AI dan Big Data
Penggunaan AI untuk pencarian informasi, rekomendasi buku, atau analisis perilaku pengguna memerlukan pemahaman teknologi yang mendalam. Banyak pustakawan yang masih minim pelatihan terkait hal ini.
3.3. Keterbatasan Infrastruktur
Tidak semua perpustakaan memiliki perangkat keras dan jaringan internet yang memadai untuk implementasi AI.
3.4. Adaptasi dengan Generasi Milenial dan Z
Generasi muda menuntut layanan cepat, interaktif, dan berbasis digital. Pustakawan harus mampu menyesuaikan diri dengan ekspektasi tersebut.
4. Pemanfaatan AI di Perpustakaan
AI dapat diterapkan dalam berbagai aspek pengelolaan perpustakaan:
- Chatbot Informasi – Memberikan jawaban otomatis kepada pengunjung terkait koleksi, jam buka, atau prosedur peminjaman buku.
- Rekomendasi Bacaan – Algoritma AI dapat menganalisis preferensi pengguna dan merekomendasikan buku atau artikel yang sesuai.
- Manajemen Koleksi Digital – AI membantu memindai, mengindeks, dan mengklasifikasi buku elektronik atau dokumen digital secara efisien.
- Analisis Tren Literasi – AI dapat mengolah data pinjaman dan penggunaan perpustakaan untuk menentukan kebutuhan pengguna.
Penerapan AI ini membuat pustakawan tidak hanya sebagai penjaga buku, tetapi juga sebagai kurator informasi modern yang relevan dengan kebutuhan masyarakat digital.
5. Strategi Pengembangan Kompetensi Pustakawan
Gubernur Ansar menekankan beberapa strategi agar pustakawan mampu merespon perkembangan teknologi AI:
5.1. Pelatihan Rutin
Mengadakan pelatihan dan workshop terkait teknologi terbaru, termasuk AI, big data, dan manajemen informasi digital.
5.2. Kolaborasi dengan Institusi Pendidikan
Bekerjasama dengan universitas dan lembaga pendidikan tinggi untuk riset, pengembangan teknologi, dan sertifikasi profesional pustakawan.
5.3. Pembaruan Infrastruktur
Memperkuat jaringan internet, perangkat komputer, dan software perpustakaan berbasis digital agar implementasi AI berjalan lancar.
5.4. Edukasi Publik
Selain meningkatkan kompetensi pustakawan, masyarakat juga perlu memahami layanan digital perpustakaan agar dapat memanfaatkan teknologi secara maksimal.
6. Dampak Positif bagi Perpustakaan dan Masyarakat
Dengan penerapan AI dan peningkatan kompetensi pustakawan, dampak positif yang diharapkan antara lain:
- Layanan Lebih Cepat dan Efisien – Pengunjung dapat menemukan informasi secara instan.
- Meningkatkan Minat Baca – Rekomendasi AI membantu pengunjung menemukan buku sesuai minat.
- Pengelolaan Koleksi Lebih Baik – Dokumen digital terindeks rapi, memudahkan pencarian dan peminjaman.
- Pengembangan Profesional Pustakawan – Menjadi tenaga profesional yang adaptif, berkompeten, dan relevan.
Transformasi digital ini sekaligus membuat perpustakaan lebih menarik bagi generasi muda yang terbiasa dengan teknologi.
Kesimpulan
Pidato Gubernur Ansar pada pembukaan Kongres IPI menegaskan bahwa pustakawan harus mampu menanggapi perkembangan teknologi AI agar tetap relevan di era digital. Pustakawan yang terampil dalam penggunaan AI akan mampu memberikan layanan informasi lebih cepat, akurat, dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah, pustakawan, dan institusi pendidikan menjadi kunci sukses transformasi ini. Dengan strategi yang tepat, perpustakaan di Indonesia dapat menjadi pusat informasi modern yang responsif terhadap perubahan teknologi.



















![Infinix Note 50s 5G Plus Resmi Meluncur! Spesifikasi Gahar & Harga Terjangkau [2025]](https://teknouniverse.com/wp-content/uploads/2025/04/7-8-360x180.jpg)









